Langsung ke konten utama

Tips Komunikasi – Senior Dengan Demensia

Berkomunikasi dengan senior penderita demensia membutuhkan empati, kesabaran, dan teknik khusus. Tujuh tips ini membantu pendamping dan keluarga berinteraksi dengan lebih baik.

Pendamping berkomunikasi dengan lansia penderita demensia menggunakan bahasa tubuh yang lembut dan penuh perhatian

Pendamping berkomunikasi dengan lansia penderita demensia menggunakan bahasa tubuh yang lembut dan penuh perhatian

Tips Komunikasi – Senior Dengan Demensia

Tips Komunikasi – Warga Dengan Demensia

Komunikasi dengan senior demensia akibat kondisi seperti Alzheimer atau penyebab gangguan otak lainnya memerlukan pemahaman tersendiri. Kondisi demensia bersifat progresif yang membuat makin sulitnya seseorang untuk mengingat sesuatu, berfikir dengan jernih, berkomunikasi dengan jelas, hingga merawat diri mereka sendiri. Senior dengan demensia juga dapat mengalami perubahan status emosional hingga merubah kepribadian dan perilakunya. Oleh karenanya, seringkali berkomunikasi bersama senior dengan demensia menjadi tantangan sendiri bagi orang-orang di sekitarnya.

Ketidakpahaman terhadap perilaku dan keterbatasan kognitif yang tengah terjadi pada senior dengan demensia dapat menciptakan kekesalan dan stres pada keluarga dan pendampingnya. Agar hubungan antara kita dan senior dengan demensia dapat terjalin lebih baik, simak panduan berikut.

Tujuh Tips Komunikasi – Senior dengan Demensia

  1. Persiapkan hati yang positif pada saat berinteraksi. Sikap dan bahasa tubuh Anda dalam mengkomunikasikan sesuatu akan lebih kuat daripada menggunakan kata-kata. Dengan suasana hati yang positif ketika berbicara dengan warga dengan demensia, Anda dapat berbicara dengan cara yang menyenangkan dan penuh rasa hormat. Gunakan nada suara yang halus, ekspresi wajah yang ramah, hingga sentuhan fisik untuk membantu penyampaian pesan dan tunjukan dengan rasa penuh kasih sayang.
  2. Dapatkan perhatiannya saat berkomunikasi. Upayakan fokus perhatian warga dengan demensia, dan lakukan komunikasi di ruangan yang terbatasi dari gangguan dan kebisingan — misalnya dengan mematikan TV, menutup pintu, ataupun pindah ke area yang lebih tenang. Pastikan Anda mendapat perhatiannya sebelum berbicara. Identifikasi diri Anda dengan mengingatkan beliau nama Anda dan relasinya. Gunakan isyarat nonverbal hingga sentuhan untuk membantu warga demensia agar tetap fokus. Jika beliau dalam posisi duduk, turun ke levelnya dan pertahankan kontak mata dengannya.
  3. Sampaikan pesan dengan jelas. Ketika berkomunikasi dengan warga dengan demensia, gunakan kata dan kalimat yang sederhana. Berbicara dengan pelan, jelas, dan dengan menggunakan intonasi yang meyakinkan. Tidak perlu meninggikan suara ataupun membuat lebih keras; sebagai gantinya, ganti suara Anda menjadi lebih rendah. Gunakan kata-kata yang sama untuk mengulang pesan ataupun pertanyaan Anda jika beliau tidak mengerti pertama kali. Selalu gunakan nama orang dan tempat — tidak mengganti dengan kata ganti (mis. dia, itu, mereka, di sana) ataupun singkatan.
  4. Ajukan pertanyaan yang sederhana yang bisa dijawab. Ajukan satu pertanyaan pada satu waktu; mendapatkan jawaban ya atau tidak dari mereka sudah cukup baik. Jangan terlalu mengajukan pertanyaan terbuka atau dengan memberi banyak pilihan.
  5. Dengarkan warga demensia dengan telinga, mata, dan hati. Bersabar dalam menunggu jawaban dari warga dengan demensia. Jika dia berusaha mencari kata yang tepat, tidak masalah untuk membantu. Selalu perhatikan isyarat nonverbal dan bahasa tubuh serta tanggapi dengan tepat.
  6. Ketika keadaan menjadi lebih sulit, coba untuk mengalihkan perhatian mereka. Penting diingat bahwa menjalin hubungan dengan warga demensia perlu dilakukan pada tingkat perasaan. Sebelum Anda mengalihkan perhatian, mungkin Anda dapat berkata: "Bapak kelihatannya sedang sedih – ayo kita cari hiburan yang menyenangkan."
  7. Tanggapi senior demensia dengan penuh kasih sayang dan kepastian. Warga demensia sering merasa kebingungan, cemas, dan tidak yakin pada diri sendiri. Mereka sering mendapatkan kenyataan yang membingungkan dan mungkin mengingat hal-hal yang tidak pernah terjadi. Hindari mencoba meyakinkan mereka bahwa mereka salah. Tetap fokus pada perasaan yang mereka tunjukan dan ekspresikan dengan sikap yang positif. Pertahankan selera humor Anda dan gunakan humor kapanpun memungkinkan — warga dengan demensia cenderung masih mempertahankan kemampuan sosial mereka dan biasanya masih senang tertawa dan bersenda gurau bersama.

Baca Juga: Berinteraksi dengan warga demensia dan alzheimer

Pahami Dalam Berkomunikasi

Dengan memahami beberapa tips berkomunikasi dengan warga demensia, kita semua dapat berinteraksi dengan lebih baik dan lebih banyak. Staff di RUKUN Senior Care, RUKUN Group Home, dan RUKUN Dementia Support Center yang setiap harinya melayani warga demensia senantiasa mempraktekkan prinsip komunikasi ini untuk mengoptimalkan interaksi dengan senior. Berbagai studi telah membuktikan pentingnya interaksi sosial bagi warga dengan demensia — dari peningkatan suasana hati yang lebih positif, keceriaan, hingga pengurangan perilaku kemarahan. Dengan demikian kita semua dapat memberikan layanan terbaik bagi warga dengan demensia.


RUKUN Dementia Support Solution
Email: info@rukunseniorliving.com
Phone: 021 8795 1525

Kawasan Darmawan Park, Jl. Babakan Madang No. 99, Sentul Selatan – Bogor 16810

Referensi: Standard.net

Kategori: Demensia
Dipublikasikan:

Demensia adalah kondisi progresif yang secara bertahap melemahkan kemampuan seseorang untuk mengingat, berpikir jernih, berkomunikasi, dan merawat diri sendiri. Penderitanya juga dapat mengalami perubahan emosional dan kepribadian. Tanpa pemahaman yang tepat terhadap keterbatasan kognitif ini, komunikasi yang kurang sesuai dapat menimbulkan kekesalan dan stres — baik pada penderita maupun pada keluarga dan pendampingnya.

Ulangi pesan menggunakan kata-kata yang sama — bukan kata yang berbeda. Berbicara dengan pelan dan nada suara yang lebih rendah (bukan lebih keras). Gunakan nama orang dan tempat secara eksplisit daripada kata ganti seperti 'dia' atau 'di sana'. Satu pertanyaan pada satu waktu sudah cukup, dan jawaban ya atau tidak dari mereka adalah respons yang baik.

Sebelum mengalihkan perhatian, akui terlebih dahulu perasaan yang mereka tunjukkan. Misalnya: 'Bapak kelihatannya sedang sedih — ayo kita cari hiburan yang menyenangkan.' Pendekatan ini penting karena hubungan dengan warga demensia perlu dibangun pada tingkat perasaan, bukan hanya pada tingkat logika atau fakta.

Ya. Warga dengan demensia cenderung masih mempertahankan kemampuan sosial mereka meskipun kemampuan kognitif menurun. Mereka umumnya masih senang tertawa dan bersenda gurau. Mempertahankan selera humor dalam interaksi adalah pendekatan yang dianjurkan, selama dilakukan dengan rasa hormat dan kasih sayang.

PT. RUKUN SAHABAT SENIOR menyediakan layanan demensia terpadu melalui RUKUN Senior Care, RUKUN Group Home, dan RUKUN Dementia Support Center yang berlokasi di Kawasan Darmawan Park, Sentul Selatan, Bogor. Staf yang bertugas setiap hari menerapkan prinsip komunikasi berbasis bukti untuk mengoptimalkan kualitas interaksi dan kesejahteraan warga demensia.