Demensia Adalah Sindrom Gejala Gangguan Fungsi Otak
Panduan ringkas untuk memahami apa itu demensia, mengapa terjadi, penyebabnya, dan tips interaksi praktis untuk masing-masing dari 10 gejala umum demensia — berdasarkan standar ALZI dan RUKUN Dementia Support.
Pendamping dan warga senior berinteraksi di fasilitas perawatan demensia RUKUN Senior Living
Demensia Adalah Sindrom Gejala Gangguan Fungsi Otak

Keterbatasan pengetahuan dan kesalahpahaman mengenai demensia adalah beberapa hal utama mengapa tercipta sebuah stigma negatif terhadap orang dengan demensia.
Saat pertama menyadari bahwa ada sesuatu "perubahan" pada perilaku atau kebiasaan anggota keluarga kita, mungkin masih belum berpikir terlalu jauh. Suara kecil di benak berkata, "mungkin mama kecapaian hari ini, jadi rada moody" atau "papa sepertinya terlalu terburu-buru, jadi kelupaan di mana menaruh dompetnya." Tetapi dengan berjalannya waktu, perubahan perilaku ini mungkin mulai terjadi lebih sering, bahkan suatu saat menjadi "pola baru". Saat kita menyadari kenyataan ini, ada kemungkinan anggota keluarga kita sudah mulai mengalami kondisi demensia yang mengkhawatirkan.
Pedoman ini bertujuan untuk memberikan pencerahan ringkas bagi khalayak umum agar dapat memahami apa yang dimaksud dengan demensia, beberapa gejala umum penyakit ini, dan tips dalam berinteraksi dengan orang dengan demensia.
Demensia adalah?
Demensia adalah sebuah sindrom, di mana sindrom adalah sekumpulan gejala yang saling terkait dan/atau timbul bersama. Dalam hal demensia, gejala-gejala yang timbul disebabkan oleh kegagalan fungsi otak yang mempengaruhi fungsi kognitif seseorang. Dengan demensia kemampuan berpikir, mengingat, dan bernalar mulai menghilang. Mulai timbul pula keterbatasan kemampuan dan perubahan perilaku sedemikian rupa sehingga mengganggu kehidupan dan aktivitas sehari-hari orang dengan demensia tersebut.
Fungsi-fungsi kognitif termasuk memori, kemampuan berbahasa, persepsi visual, pemecahan masalah, pengendalian diri, dan kemampuan untuk fokus dan memperhatikan sesuatu. Beberapa orang dengan demensia tidak dapat mengendalikan emosi mereka, dan kepribadian mereka dapat berubah.
Kondisi demensia adalah sebuah spektrum yang umumnya didefinisikan dalam tujuh tahapan. Mulai dari tingkat satu di mana masalah belum terdeteksi hingga tingkat tujuh saat orang dengan demensia tersebut harus bergantung sepenuhnya pada orang lain untuk membantu dalam kegiatan dasar kehidupan sehari-hari seperti perawatan diri, berbusana, makan-minum, dan lainnya.
Mengapa Kondisi Demensia Terjadi?
Kondisi demensia terjadi ketika neuron yang sehat (sel saraf) di otak berhenti berfungsi, kehilangan koneksi dengan sel-sel otak yang lain, dan mati. Meskipun seiring bertambahnya usia semua orang akan kehilangan beberapa neuron, orang dengan demensia mengalami kehilangan yang jauh lebih besar dibanding orang pada umumnya. Perlu ditekankan bahwa timbulnya demensia bukan merupakan bagian normal dari proses penuaan. Banyak orang hidup sampai usia 90-an dan seterusnya tanpa tanda-tanda demensia. Bahkan salah satu jenis demensia, yang diakibatkan gangguan pada bagian otak frontotemporal, lebih sering terjadi pada usia paruh baya daripada orang yang lebih tua.
Apa Penyebab Demensia?
Demensia dapat disebabkan oleh beberapa hal, tergantung pada jenis perubahan otak dan fungsi saraf yang mungkin terjadi. Penyakit penyebab demensia yang paling umum adalah Alzheimer, yang mengakibatkan 50–75% kasus demensia. Alzheimer adalah sebuah penyakit yang menyerang otak secara langsung dengan timbulnya endapan protein yang abnormal di seluruh otak, sehingga neuron yang sehat mulai berhenti berfungsi, kehilangan koneksi dengan neuron lain, kemudian mati.
Selain Alzheimer, terdapat ragam hal lain yang dapat mengakibatkan kegagalan fungsi otak, seperti penyakit otak lainnya seperti Lewy Body dan Frontotemporal demensia, maupun demensia vaskuler yaitu kondisi demensia yang disebabkan oleh gangguan aliran darah ke otak. Gangguan aliran darah ini bisa disebabkan beberapa hal seperti penyakit jantung, darah tinggi, diabetes, dan kolesterol tinggi. Selain dari penyakit, kegagalan fungsi otak juga dapat terjadi karena hal lain seperti keracunan, faktor keturunan, atau tekanan psikologis seperti depresi.
Otak manusia adalah sebuah organ yang sangat kompleks dan memegang fungsi sangat penting. Maka gangguan pada fungsi otak akan memberikan dampak yang cukup besar pada kehidupan seseorang terkait kemampuan, perilaku, dan kepribadiannya. Setiap bagian otak memiliki fungsinya masing-masing. Misalnya, bagian Frontal Lobe mengendalikan kemampuan kognitif penting seperti pengendalian emosi, daya pikir, kepribadian, dan pembuatan keputusan. Sedangkan bagian Occipital Lobe bertanggung jawab atas kemampuan melihat seperti menginterpretasikan warna, cahaya, dan gerakan.
Meskipun ada beberapa hal yang dapat menyebabkan demensia, karena sampai saat ini belum tersedia solusi medis untuk menyembuhkannya, semua jenis demensia mempunyai empat ciri berikut:
- Minimal dua bagian otak mengalami kegagalan, salah satunya termasuk fungsi daya ingat.
- Sifatnya kronis, yaitu bertahan untuk durasi waktu yang panjang atau gejala yang timbul terus menerus.
- Sifatnya progresif di mana kondisinya semakin lama semakin parah.
- Sifatnya terminal, artinya kondisi demensia akan diakhiri dengan meninggalnya sang penderita.
Gejala-Gejala Umum Demensia dan Tips Dalam Menghadapinya
Dengan mengacu pada pedoman standar dari Alzheimer Indonesia (ALZI.or.id) mengenai 10 gejala-gejala umum demensia, berikut beberapa tips terkait setiap gejala Orang Dengan Demensia (ODD):
Gejala: Gangguan daya ingat
Antara lain sering lupa akan kejadian yang baru saja terjadi atau lupa janji. Juga menanyakan dan menceritakan hal yang sama berulang kali, atau lupa tempat menyimpan sesuatu.
Tips Dalam Berinteraksi
Jawab pertanyaan dan jalankan percakapan dengan sabar. Meskipun pertanyaan atau sebuah topik pembahasan dilakukan berulang, jawablah seakan setiap kali adalah kali pertama topik tersebut diungkapkan. Secara proaktif, ungkapkan pertanyaan lainnya yang dapat memicu daya ingat atau kenangan lain yang masih dimiliki.
Gejala: Sulit fokus
Antara lain sulit melakukan pekerjaan sehari-hari atau memakai telepon. Juga tidak dapat melakukan perhitungan sederhana atau memakan waktu lebih lama dari biasanya dalam melakukan sesuatu.
Tips Dalam Berinteraksi
Berbicaralah secara jelas dan tidak tergesa-gesa untuk memastikan bahwa ucapan Anda dapat dipahami. Beritahu bahwa Anda hadir untuk membantu, dan secara tulus berikan dukungan dan asistensi sesuai kebutuhannya.
Gejala: Sulit melakukan kegiatan yang familiar
Seringkali sulit untuk merencanakan atau menyelesaikan tugas sehari-hari, bingung cara mengemudi, sulit mengatur keuangan.
Tips Dalam Berinteraksi
Bantu dalam merencanakan kegiatan sehari-harinya dengan sabar dan tenang. Berikan bimbingan dan tuntunan dalam melakukan hal-hal yang masih dapat mereka lakukan sendiri secara aman.
Gejala: Disorientasi
Bingung akan tempat atau waktu (hari/tanggal/jam). Bingung di mana mereka berada dan bagaimana mereka sampai di sana, tidak tahu cara pulang ke rumah.
Tips Dalam Berinteraksi
Yang utama adalah memvalidasi perasaan emosional mereka. Jika mereka merasa resah, akui rasa kekhawatiran mereka sambil berusaha menjelaskan kondisi sesungguhnya. Namun, jangan paksakan realita sesungguhnya. Misalnya, jika pada malam hari mereka bersikeras bahwa itu sebetulnya pagi hari, maka terimalah pendapat mereka sambil mengalihkan perhatian mereka pada topik lain.
Gejala: Kesulitan memahami visuo-spasial
Sulit untuk membaca, menentukan jarak atau membedakan warna. Juga tidak mengenali wajah sendiri di cermin, menabrak dinding/pintu saat berjalan, atau sukar menuang air ke dalam gelas dengan tepat.
Tips Dalam Berinteraksi
Persiapkan dan lengkapi area tinggal mereka dengan hal-hal yang mendukung kemampuan mereka yang sudah terbatas. Misalnya memakai warna yang cukup berbeda untuk menandai perbedaan level pada lantai, membuat halangan fisik pada area rumah yang membahayakan. Memberi asistensi dan dukungan sehari-hari sesuai kebutuhan.
Gejala: Gangguan dalam berkomunikasi
Kesulitan berbicara dan mencari kata yang tepat, seringkali berhenti di tengah percakapan dan bingung untuk melanjutkannya.
Tips Dalam Berinteraksi
Simak alur percakapan dan perhatikan perilaku emosional mereka agar dapat memahami makna yang ingin disampaikan. Ulang kembali hasil penangkapan Anda untuk menandakan bahwa Anda memahami apa yang telah mereka sampaikan. Berbicaralah dengan jelas dan tidak tergesa-gesa.
Gejala: Menaruh barang tidak pada tempatnya
Misalnya menyimpan kunci rumah dalam lemari es, kemudian menjadi curiga ada yang mencuri atau menyembunyikan barang tersebut.
Tips Dalam Berinteraksi
Warga yang mulai mengalami kelupaan dapat dibantu dengan menyediakan petunjuk untuk mengarahkan perilakunya sehari-hari. Misalnya, menandakan tempat untuk menyimpan kunci dengan plang "Simpan kunci di sini." Akan terbantu juga dengan situasi rumah dan area yang rapi dan tertata agar lebih mudah melihat dan menemukan sesuatu.
Gejala: Kesulitan membuat keputusan yang wajar
Tidak dapat memilih pakaian sehingga berpakaian tidak serasi, sukar dalam menentukan keinginannya, tidak merawat diri dengan baik.
Tips Dalam Berinteraksi
Dalam situasi ini, hubungan relasi yang baik sangat penting antara mereka dan pendampingnya, baik anggota keluarga sendiri ataupun seorang penyedia jasa. Ketulusan hati dan kasih sayang dalam membantu mereka dalam merawat diri, berbusana dan pembuatan keputusan lainnya harus senantiasa dilakukan demi kepentingan dan kebaikan mereka secara utama.
Gejala: Menarik diri dari pergaulan
Tidak memiliki semangat atau inisiatif untuk melakukan aktivitas atau hobi yang biasa diminati, tidak berminat untuk berkumpul dengan teman-temannya.
Tips Dalam Berinteraksi
Pahamilah bahwa gejala ini dapat terjadi karena beberapa hal, antara lain: malu karena lupa cara melakukan sesuatu, minder atau takut karena mulai tidak mengenal orang di sekitarnya. Oleh karenanya, kita harus secara aktif mengajak mereka melakukan sesuatu, apapun itu, dari hal sederhana seperti mengobrol, melipat pakaian, bernyanyi, hingga melakukan proyek seni karya bersama dan aneka permainan.
Gejala: Perubahan perilaku dan kepribadian
Emosi berubah secara drastis, menjadi bingung, curiga, atau depresi. Juga menjadi takut atau tergantung yang berlebihan pada anggota keluarga, mudah kecewa dan putus asa dalam situasi sehari-hari.
Tips Dalam Berinteraksi
Perkembangan penyakit yang terjadi dalam otak orang dengan demensia adalah hal yang mau tidak mau akan merubah kepribadian mereka. Mereka seakan menjadi orang lain yang tidak kita kenal sebelumnya. Terimalah fakta ini dengan hati dan pikiran yang terbuka, dan layani mereka sebagaimana mereka berada pada saat ini. Setiap interaksi adalah momen baru bagi orang dengan demensia, tidak ada lagi konsep kemarin atau besok. Semua hal yang kita lakukan dengan mereka adalah pengalaman baru yang perlu kita lakukan dengan semangat yang positif.
Prinsip Dasar dalam Berinteraksi dengan ODD
Meningkatkan pemahaman mengenai demensia adalah hal yang perlu dilakukan agar dapat berinteraksi dengan orang dengan demensia. Dengan demikian diharapkan stigma negatif terkait perilaku orang dengan demensia akan berkurang. Sebaliknya, pemahaman yang lebih baik memberikan kesadaran bagi kita dalam berinteraksi dan melayani orang dengan demensia secara optimal.
Tentang RUKUN Dementia Support Solution
RUKUN Senior Living menyajikan ragam sarana hunian dan pelayanan khusus bagi senior dengan demensia sebagai solusi bagi keluarga senior.
www.rukunseniorliving.com/dementia-support
Email: info@rukunseniorliving.com
Phone: 021 8795 1525
Demensia adalah sebuah sindrom — sekumpulan gejala yang saling terkait — yang disebabkan oleh kegagalan fungsi otak yang mempengaruhi fungsi kognitif seseorang. Dengan demensia, kemampuan berpikir, mengingat, dan bernalar mulai menurun, disertai perubahan perilaku dan kepribadian yang mengganggu kehidupan serta aktivitas sehari-hari.
Semua jenis demensia memiliki empat ciri: (1) minimal dua bagian otak mengalami kegagalan fungsi, salah satunya mencakup daya ingat; (2) bersifat kronis — berlangsung dalam durasi panjang atau dengan gejala yang terus menerus; (3) bersifat progresif — kondisi semakin memburuk dari waktu ke waktu; dan (4) bersifat terminal — kondisi demensia akan berakhir dengan meninggalnya penderita.
Selain Alzheimer (penyebab 50–75% kasus), demensia juga dapat disebabkan oleh: Lewy Body disease, demensia frontotemporal, demensia vaskuler (akibat gangguan aliran darah ke otak — terkait penyakit jantung, hipertensi, diabetes, atau kolesterol tinggi), serta faktor lain seperti keracunan, faktor keturunan, atau tekanan psikologis seperti depresi.
Tidak. Meskipun demensia lebih umum pada orang lanjut usia, demensia bukan bagian normal dari proses penuaan. Banyak orang hidup hingga usia 90-an tanpa tanda-tanda demensia. Bahkan salah satu jenis demensia — yang melibatkan gangguan pada area frontotemporal otak — lebih sering terjadi pada usia paruh baya dibandingkan pada usia yang lebih tua.
Frontal Lobe mengendalikan fungsi kognitif penting seperti pengendalian emosi, daya pikir, kepribadian, dan pembuatan keputusan. Gangguan pada bagian ini dapat menyebabkan perubahan kepribadian, emosi yang tidak terkendali, dan kesulitan mengambil keputusan. Occipital Lobe bertanggung jawab atas interpretasi visual — warna, cahaya, dan gerakan. Gangguan di sini dapat menyebabkan kesulitan visuospasial seperti tidak mengenali wajah sendiri di cermin atau menabrak benda di sekitarnya.